<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Ayat-ayat cinta (poligami vers by:hanung)</title>
	<atom:link href="http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/</link>
	<description>Simple life, Simple world, Simple blog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 13 Oct 2009 13:56:26 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: undurundur</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-753</link>
		<dc:creator>undurundur</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 07:54:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-753</guid>
		<description>izin repost bos...

http://undurundur.blogspot.com/2009/06/ayat-ayat-cinta-movie-penyesatan.html</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>izin repost bos&#8230;</p>
<p><a href="http://undurundur.blogspot.com/2009/06/ayat-ayat-cinta-movie-penyesatan.html" rel="nofollow">http://undurundur.blogspot.com/2009/06/ayat-ayat-cinta-movie-penyesatan.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-739</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 07:53:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-739</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. 

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). 

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. 

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)</p>
<p>Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V<br />
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)<br />
Oleh Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).</p>
<p>JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   </p>
<p>Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. </p>
<p>Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?</p>
<p>Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan &#8211; sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).</p>
<p>YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).</p>
<p>Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.</p>
<p>SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).</p>
<p>Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.</p>
<p>Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). </p>
<p>Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.</p>
<p>SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).</p>
<p>Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  </p>
<p>Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      </p>
<p>Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. </p>
<p>SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: asih</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-722</link>
		<dc:creator>asih</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 May 2008 12:13:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-722</guid>
		<description>alow..add balik ya di fs aq asihcute51@yahoo.co.id..
blog qm keyen...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>alow..add balik ya di fs aq <a href="mailto:asihcute51@yahoo.co.id">asihcute51@yahoo.co.id</a>..<br />
blog qm keyen&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Indonesiana : Ray Blog</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-679</link>
		<dc:creator>Indonesiana : Ray Blog</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 21:08:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-679</guid>
		<description>[...] makan sodara sendiri) dan sesekali parkir sejenak untuk melepas penat ditepi pantai sambil membaca ayat ayat cinta sambil berdoa agar perjalanan hidup ini [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] makan sodara sendiri) dan sesekali parkir sejenak untuk melepas penat ditepi pantai sambil membaca ayat ayat cinta sambil berdoa agar perjalanan hidup ini [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: fitrianingrum</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-678</link>
		<dc:creator>fitrianingrum</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 27 Mar 2008 10:41:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-678</guid>
		<description>wew, tulisannya panjang bener !!
ampun dah, pasti dulu pas SD jago ngarang.

di pilemnya, maria mati kowk.
yang bikin saia kecewa tuwh pas maria mau mati, ga diceritain gimana maria melatunkan surat maria dan surat sesudahnya... perjuangan maria agar masuk surga...

aah pdhal justru bagian terakhir itu yang paling berkesan bwt saia, eh, di pilemnya ga ada...
kecewa dengan endingnya... :(

~ salam kenal, cyberh3b ;)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wew, tulisannya panjang bener !!<br />
ampun dah, pasti dulu pas SD jago ngarang.</p>
<p>di pilemnya, maria mati kowk.<br />
yang bikin saia kecewa tuwh pas maria mau mati, ga diceritain gimana maria melatunkan surat maria dan surat sesudahnya&#8230; perjuangan maria agar masuk surga&#8230;</p>
<p>aah pdhal justru bagian terakhir itu yang paling berkesan bwt saia, eh, di pilemnya ga ada&#8230;<br />
kecewa dengan endingnya&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>~ salam kenal, cyberh3b <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Budhiman</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-677</link>
		<dc:creator>Budhiman</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 26 Mar 2008 09:40:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-677</guid>
		<description>Gak pa pa bos, masih lebih banyak positifnya dari pada negatifnya. Emang saudara kita harus disuguhin terus film jorok n mengumbar aurat tiap hari?. Syukur2 kita sekarang ada yang mau buat film islami (walaupun belum sempurna) karna &quot;neg&quot; juga setiap hari produksi film hanya cinta-cinta-cinta dan cinta sahwat semata.... mari kita dukung film yang mendidik seperti ini. Buat mas Hanung, &quot;Jangan takut mas tuk ngangkat cerita bernuansa islam ya?!&quot;, jangan kayak teman2 mas yang lain yang hanya berani buat film jorok dan horor rendahan itu. Keep the spirit!&quot;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gak pa pa bos, masih lebih banyak positifnya dari pada negatifnya. Emang saudara kita harus disuguhin terus film jorok n mengumbar aurat tiap hari?. Syukur2 kita sekarang ada yang mau buat film islami (walaupun belum sempurna) karna &#8220;neg&#8221; juga setiap hari produksi film hanya cinta-cinta-cinta dan cinta sahwat semata&#8230;. mari kita dukung film yang mendidik seperti ini. Buat mas Hanung, &#8220;Jangan takut mas tuk ngangkat cerita bernuansa islam ya?!&#8221;, jangan kayak teman2 mas yang lain yang hanya berani buat film jorok dan horor rendahan itu. Keep the spirit!&#8221;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: buncis</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-674</link>
		<dc:creator>buncis</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 03:55:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-674</guid>
		<description>ck ck ck.. 
gak nyangka ya. ternyata,,.
:)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ck ck ck..<br />
gak nyangka ya. ternyata,,.<br />
 <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: mailme</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-673</link>
		<dc:creator>mailme</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 22 Mar 2008 02:07:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-673</guid>
		<description>Gw setuju sama lu heb ...

Ketika sesuatu diangkat ke dalam film ... kebanyakan fakta yg ada didalam novel tidak diangkat ,yang ada malah diputar balikkan,ditambah dan dikurangi.

Hmm .. gw jadi inget John Markoff vs Kevin Mitnick , Takedown vs Freedom Downtime ?? ...,</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Gw setuju sama lu heb &#8230;</p>
<p>Ketika sesuatu diangkat ke dalam film &#8230; kebanyakan fakta yg ada didalam novel tidak diangkat ,yang ada malah diputar balikkan,ditambah dan dikurangi.</p>
<p>Hmm .. gw jadi inget John Markoff vs Kevin Mitnick , Takedown vs Freedom Downtime ?? &#8230;,</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: principessa</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-672</link>
		<dc:creator>principessa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 21 Mar 2008 17:09:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-672</guid>
		<description>yupz,,mank da bnrnya..
tp SuSah j9 x n9erubah NoveL k Skenario..
kLo cuma nyaLin 9ampan9, tp kN terbataS ma DuraSi.
9w j9 muaLaf, N dah tamat 2x baca NoveLny..
jd k inget kiSah 9w (bkn percintaaNny) waktu 9w dpt Hidayah..
eman9 kuran9 nyampe peSen bwt penonton tt9 Sur9a y9 9k biSa nerima or9 ky maria,, tp Secara viSuaLiSaSi..
9k mn9kin SeEnaKny bikin Sur9a apaLa9i ada Siti mariam..
0r92 Non muSLim bkL mrh N terSin99un9 kLo tau umatny bkn termaSuk 9oLon9an or92 y9 bS mSk Sur9a.
itu kpercayaan or9 mS92 mank bnr, tp Qt ttp men9har9ai ky y9 udah dSampein N0veL ayat2 Cinta wktu kjian di metro.itu kN kaSuSny Sama. 9k bLh n9ebedain a9ama N kita hrS bs men9har9ai itu.
SoaL poLi9ami mn9kin kuran9 etiS kLo dipubLikaSikan, tp Syah2 Saja krn dLm hukum iSLam pun ada,.
So..j9n terLaLu menyaLahkan fiLm ini,,!!
krn fiLm ini ada &amp; dpt tayan9 atS perSetujuan San9 penuLiS NoveL..

TerimakaSih
(iSLam tidak pernah menjeLek2an, terima aja d9n ikhLaS!! bLm tentu kita biSa membuat karya Seperti ini, jd tL9 dhar9ain krn byk pen9orbana2 y9 hrS kita ketahui btp SuLitny mreka crew+pemain dan SemuaNy y9 berjuan9 untuk mencapai haSiL y9 makSimaL demi maSyarakat y9 menun99u fiLm ini.waLaupun mn9kin haSiLny 9k makSimaL,,)9w 9k makSud men99urui..

Coba tonton fiLmNy N ambiL SiSi poSitifNya!!!
9w yakin Lo seoran9 muSLim y9 baik,,y9 9k pernah menjeLek2an krya or9.&quot;DiDunia ini 9da y9 Sempurna&quot;bgtupun jdinya fiLm itu, mun9kin bLm Sempurna..
9w aja mSh bLjr utk jd Lbih baik..
iSLam itu Sabar, ikhLaS N da ktenan9an hati.
j9n mw muntah L9 y?!!!hehe(bcanda)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>yupz,,mank da bnrnya..<br />
tp SuSah j9 x n9erubah NoveL k Skenario..<br />
kLo cuma nyaLin 9ampan9, tp kN terbataS ma DuraSi.<br />
9w j9 muaLaf, N dah tamat 2x baca NoveLny..<br />
jd k inget kiSah 9w (bkn percintaaNny) waktu 9w dpt Hidayah..<br />
eman9 kuran9 nyampe peSen bwt penonton tt9 Sur9a y9 9k biSa nerima or9 ky maria,, tp Secara viSuaLiSaSi..<br />
9k mn9kin SeEnaKny bikin Sur9a apaLa9i ada Siti mariam..<br />
0r92 Non muSLim bkL mrh N terSin99un9 kLo tau umatny bkn termaSuk 9oLon9an or92 y9 bS mSk Sur9a.<br />
itu kpercayaan or9 mS92 mank bnr, tp Qt ttp men9har9ai ky y9 udah dSampein N0veL ayat2 Cinta wktu kjian di metro.itu kN kaSuSny Sama. 9k bLh n9ebedain a9ama N kita hrS bs men9har9ai itu.<br />
SoaL poLi9ami mn9kin kuran9 etiS kLo dipubLikaSikan, tp Syah2 Saja krn dLm hukum iSLam pun ada,.<br />
So..j9n terLaLu menyaLahkan fiLm ini,,!!<br />
krn fiLm ini ada &amp; dpt tayan9 atS perSetujuan San9 penuLiS NoveL..</p>
<p>TerimakaSih<br />
(iSLam tidak pernah menjeLek2an, terima aja d9n ikhLaS!! bLm tentu kita biSa membuat karya Seperti ini, jd tL9 dhar9ain krn byk pen9orbana2 y9 hrS kita ketahui btp SuLitny mreka crew+pemain dan SemuaNy y9 berjuan9 untuk mencapai haSiL y9 makSimaL demi maSyarakat y9 menun99u fiLm ini.waLaupun mn9kin haSiLny 9k makSimaL,,)9w 9k makSud men99urui..</p>
<p>Coba tonton fiLmNy N ambiL SiSi poSitifNya!!!<br />
9w yakin Lo seoran9 muSLim y9 baik,,y9 9k pernah menjeLek2an krya or9.&#8221;DiDunia ini 9da y9 Sempurna&#8221;bgtupun jdinya fiLm itu, mun9kin bLm Sempurna..<br />
9w aja mSh bLjr utk jd Lbih baik..<br />
iSLam itu Sabar, ikhLaS N da ktenan9an hati.<br />
j9n mw muntah L9 y?!!!hehe(bcanda)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: zenletion</title>
		<link>http://cyberheb.wordpress.com/2008/03/15/fenomena-ayat-ayat-cinta-2/#comment-671</link>
		<dc:creator>zenletion</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 11:57:46 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://cyberheb.wordpress.com/?p=128#comment-671</guid>
		<description>K Cyberheb salam kenal,
setuju sama Mba imoetz, coba ditonton aja dulu filmnya. yah memang c, di Indonesia sendiri produser masih sangat besar. makanya mungkin  alur yang berubah juga atas campur tangan produser, mungkin lho ya. tapi, saya juga banyak mencermati kekurangan film ini sendiri setelah mencoba menonton.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>K Cyberheb salam kenal,<br />
setuju sama Mba imoetz, coba ditonton aja dulu filmnya. yah memang c, di Indonesia sendiri produser masih sangat besar. makanya mungkin  alur yang berubah juga atas campur tangan produser, mungkin lho ya. tapi, saya juga banyak mencermati kekurangan film ini sendiri setelah mencoba menonton.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
