Ayat-ayat cinta (poligami vers by:hanung)
Yap, tulisan yang gw buat sekarang ini mengandung unsur SARA. So, jika keberatan silahkan di-skip dan tidak usah dibaca. Ini hanya sepenggal opini pribadi mengenai fenomena film ayat-ayat cinta.
Gw sih sampe saat ini belum pernah nonton film nya di bioskop, tapi awalnya sempat kagum dengan cerita orang cerdas satu ini yang bercerita tentang banyaknya cobaan saat hendak meng-apresiasikan film ayat-ayat cinta. Dan satu alasan kenapa tidak nonton yang bajakan, karena setelah membaca blog (lagi-lagi) orang dengan tekad-membara-untuk-mewujudkan-film-yang-berkualitas satu ini yang menceritakan bahwa versi bajakan masih sangat tidak berkualitas, banyak adegan yang belum sempurna, termasuk saat fahri talaqi yang masih menggunakan suara wanita (why?!karena sang pemeran utama tidak bisa membaca al-qur’an?!) maka gw dengan sengaja berusaha menonton versi asli yang di bioskop. Pernah hari minggu kemarin saat jalan-jalan dengan istri dan beberapa saudara sempat berniat nonton AAC di bintaro plaza, tapi ternyata full dan yang tersisa hanya tinggal jam 21 an. Alhasila gak jadi nonton. Namun masih tetap merencanakan untuk nonton bareng istri apabila ada waktu senggang weekend ini.
Baru aja gw liat di tv tentang film ayat-ayat cinta, dimana sang sutradara diwawancara bersama beberapa tokohnya. Dan gw lihat cuplikan adegan-adegan yang membuat ingin muntah seketika. Belakangan gw baru tau, ternyata alur cerita dirubah dengan sangat cerdiknya. Bagi yang belum pernah membaca karya asli ayat-ayat cinta habiburahman tentu akan langsung percaya bahwa itulah hasil karya fenomenal novel luar biasa tersebut. Cerita roman picisan, gak jauh beda dari sinetron indonesia yang sangat merendahkan serta menjelek-jelekan agama Islam.
Sabar … Sabar … Ikhlas … ikhlas!!!
begitulah yang aku dapatkan di film ini. Film ini tidak hanya mampu merobah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah merobah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerjakeras, komitmen, dan … cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan
Nice word eh?!atau…blackmarketing?!whatever…
Gw sungguh sangat kaget saat melihat cuplikan dimana tokoh maria tidak jadi meninggal, dimana tokoh fahri yang menginginkan maria untuk dijadikan istri keduanya, aisha yang tidak ikhlas dan tidak menghendaki fahri menikah dengan maria, dan maria tiba-tiba sembuh dari sakitnya, kemudian mereka semua tinggal serumah, dan adegan yang memperilihatkan kehidupan keluarga poligami bernuansa islami.
Jujur aja, jarang ada orang-orang dengan sikap menjengkelkan yang mampu membuat gw sampe naik darah meskipun mungkin orang-orang tersebut dengan sengaja menyerang gw secara pribadi. Tapi klo sudah berhubungan dengan agama, walaupun hanya hal sepele tapi sering membuat hati terasa perih, dan serasa di injek-injek. Mungkin ada yang berpikir, itu kan hanya film, setiap orang bebas ber-ekspresi lewat film dan bebas menuangkan angan-angan novel dalam bentuk suatu film, sesuai khayalan masing-masing. Tapi menurut gw, itu tergantung dari pihak yang membuat film. Gw inget banget, novel Harry potter yang dibuat filmnya betul-betul sangat diperhatikan oleh J.K Rowling agar alur cerita nya tidak melenceng dari alur cerita pada novel. Oke, mereka orang luar negeri…tingkat kecerdasan dan pemahaman mereka tentang seni lebih baik daripada orang-orang Indonesia yang hanya menginginkan materi. I can accept that.
Novel ayat-ayat cinta merupakan salah satu novel fenomenal yang berkekuatan islam, sangat jarang orang muslim bisa membuat karya seperti itu. Dan jika kita melihat di toko-toko buku, banyak novel-novel laing ingin ‘menyamai’ ayat-ayat cinta. Mulai dari cover-nya yang dibuat mirip hingga judul-nya yang juga dibuat mirip, atas nama cinta lah, dll. Hal ini menunjukan bahwa banyak plagiator yang ingin menyamai keopopuleran dan kedahsyatan novel ayat-ayat cinta.
Dengan adanya film ayat-ayat cinta, novel dengan kekuatan dahsyat seperti itu sepertinya bisa dengan mudah dibelokan segala sesuatu-nya. Novel tersebut merupakan novel pembangun jiwa, yang bisa membuat pembacanya merasakan keindahan agama islam, namun film-nya justru berusaha sebaliknya. Menunjukan kerendahan agama Islam. Dengan menonjolkan berbagai macam fakta yang pada ujung-ujungnya dapat menjatuhkan derajat agama Islam. Fakta-fakta tersebut dengan sangat halusnya dipaparkan, dengan bungkus yang luar biasa bagusnya, sehingga dapat membelokan inti dari novel yang sebenarnya.
Bisa dilihat dari paparan dan opini orang setelah menonton film ayat-ayat cinta (dan gw gak heran setelah melihat cuplikan-cuplikannya), mereka bukannya membicarakan keindahan islam namun justru membicarakan sisi poligami. Seakan-akan itulah inti dari karya sastra ayat-ayat cinta. Seakan-akan itulah inti dari orang-orang muslim yang menjalani hidupnya demi agama-nya.
Padahal dalam novelnya, fahri sangat tidak ingin menikah dengan maria. Fahri menjaga niatnya sebagai seorang suami, dan menjaga dirinya sebagai seorang muslim. Namun istri-nya lah, aisha, yang medesak dia untuk mau menikahi maria. Dan kasus maria pun tidak seperti layaknya di film. Namun maria digambarkan (saat sedang koma) mendapatkan hidayah dari Allah sesaat sebelum dia meninggal. Dia mendengarkan lantunan surat maria, dan dia tidak bisa memasuki pintu surga. Ada penghalang yang membuat dia tidak bisa memasukin pintu surga. Dan dari pengalaman-nya tersebut maria memutuskan untuk masuk islam. Dan setelah siuman, dia minta di-papah untuk berwudlu sebelum akhirnya meninggal dunia sebagai seorang muslimah.
Tidak ada kehidupan poligami, tidak ada ketidakikhlasan yang berlarut-larut dari aisha, tidak ada cerita maria sembuh setelah dinikahi fahri dan mereka menjalani kehidupan poligami seakan-akan fahri lah sang penghianat, tidak ada inti cerita yang menggambarkan akhirnya maria mendapatkan fahri setelah sekian lama berharap pada cinta fahri. Maria mendapatkan sesuatu yang lebih daripada hanya sekedar cinta pada seorang manusia, maria mendapatkan cinta Allah dengan diberikan hidayah dan diberikan kesempatan di-sisa waktunya untuk bisa memasuki pintu surga, cinta Allah yang diberikan kepada mahluknya di menit-menit akhir sisa hidupnya. Dan maria mengagumi fahri bukan karena (hanya) sisi manusia, namun karena keteguhan fahri sebagai seorang muslim dimana maria bisa melihat keindahan islam dari fahri.
Yap, pasti masih ada yg berpikir gw terlalu berlebihan karena mempermasalahkan ketidakcocokan antara novel dengan sebuah film. Tapi percaya deh, efeknya akan sangat besar.
Alhamdulillah, benar. MD Entertainment menawari membuat Film Ayat-Ayat Cinta (AAC).
‘Kenapa anda membuat film ini?’ Tanyaku
‘Sederhana. Pertama, Ini film dari Novel best seller. Kedua, penduduk indonesia 80 persen muslim. Kenapa saya tidak membuat film tentang mereka? Kalau saya minta 1 persen dari 80 persen masak tidak bisa.’
1% dari 80% penduduk muslim Indonesia berarti sekitar 2 juta penonton. dikalikan 10 ribu per tiket. Berarti pendapatan kotor 20 milyar. Kalau bujet produksinya 10 milyar, keuntungan yang didapat 10 milyar.
Oke, pihak produser merupakan mahluk tamak yang hanya memperdulikan masalah uang. I don’t care about that. Namun ternyata dampaknya bukan hanya masalah materi. Bisa dibayangkan bahwa 80% muslim di Indonesia (lagi-lagi untuk kesekiankalinya) di cekokin fakta-fakta yang tidak baik tentang islam, fakta-fakta yg diputar-balikan dan dibuat dengan sangat rapih serta indahnya agar dapat merubah sudut pandang masyarakat tentang islam.
Yap, jangan salahkan ‘mereka’. Tapi salahkan kenapa banyak muslim yang tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada seorang muslim yang mampu membiayai film tersebut. Hanya ‘mereka’, yang menguasai tingkat perekonomian saja yang mampu dan sudah menjadi hukum alam hasilnya tentu saja terserah apa kata ‘mereka’. Ini hanya merupakan bagian dari perang, dan umat muslim saat ini dalam posisi kalah.
Gw cuma berharap, semoga untuk seterusnya tidak ada lagi karya sastra hasil karya seorang muslim jenius seperti habiburahman yang dibuat film-nya. Pembuatan film hanya akan merusak nilai-nilai sastra tersebut.
Dan buat sang sutradara, semoga saja tulisan-tulisan di-blog nya selama ini bukan merupakan salah satu usaha untuk menaikan keopopularitas-an film ayat-ayat cinta. Semoga saja jika dia menyebut nama Allah, betul-betul dari lubuk hati yang paling dalam dengan penuh keikhlasan. Bukan seperti para artis Indonesia yang menyebut nama Allah demi mendapatkan kepingan-kepingan materi tambahan, gak jauh beda dengan (acting?!) para peminta-peminta jalanan yang minta dikasihani dengan terus menyebut nama Allah agar mendapatkan kepingan-kepingan materi.
Untuk ku agamaku, dan untuk mu agamamu
Itulah yang diajarkan oleh Islam, tapi kenapa ‘mereka’ masih terus menggangu ketenangan kita?!

Setuju dengan judulnya, polygami vers Hanung.
Penonton yang belum pernah baca memang (mungkin) akan berfikir novelnya seperti filmnya. Nice simple blog
“Lakum dienukum waliyadien” cuman berlaku bagi muslim yang berpikir om
gw eneg nonton pelemnya sebelum digeber di premier, bukan cuman ga sesuai dengan esensi yang ada di novel namun juga menyuguhkan kerusakan nilai sebuah novel.
Wah panjang tulisannya
panjang pula ceritanya
untuk Novelnya aku khatam berkali kali (tetap saja menitikkan air mata setiap bacanya), bener bener sangat menggugah jiwa. Tapi begitu liat Film nya (sori dikasih bajakan / thriller ma temen) waduh udah gak sreg deh.. liat Film nya aja gak abis n gak semangat, sangat jauh dari nilai nilai yg dikandung didalam novel aslinya.
Ya terlepas dari semua itu, usaha dari sutradaranya sepertinya emang sangat berat (baca tulisan dia di balik proses AAC), semoga saja satu langkah yg kecil ini akan menjadi langkah awal bangkitnya perfileman Indonesia yg bernuansa Islami. SEMOGA.
Sebagai penebus rasa bersalahku atas film bajakan yg ku lihat, aku tunggu DVD originalnya nya untuk kubeli. Soalnya kalo mau liat di bioskop, selain ruame, juga kesian anakku masih kecil
haduh syid syid,
belon nonton kok dah ngomel.
di pelemnya ituh,
si maria meninggal juga kok n fahri emang ga mau nikah ma maria tp disuruh ma aisha.
Saran gw, tonton dulu baru komentar, baru afdhol.
@imoetz
Hm, agree. tp yg jd inti permasalahan bukan itu lel. Walaupun ujungnya maria meninggal, tp ttp…dia sempat sembuh, trus menjalani kehidupan poligami yg disebut-sebut secara islami. Itu sama aja merubah slh satu inti dari novel yg sebenarnya. Poin mengenai cinta dari Allah terhadap hambanya yang mengijinkan masuk surga yang akhirnya bisa dicapai oleh maria jd tidak tersampaikan, yg tersampaikan adalah pernikahan poligami nya itu, dan lebih menjurus ke cinta maria yang akhirnya bisa mendapatkan fahri walaupun dengan cara poligami.
Kita bisa lihat sndr pendapat orang-orang stlh nonton film nya, atau bahkan pendapat para artis pemain film nya “saya sih msh tidak bisa menerima poligami spt dlm film itu”.
IMHO, jauh lbh banyak hal penting yg bisa tersampaikan kalau film-nya sesuai dengan novel aslinya. At least…gak ada perubahan alur cerita yg cukup signifikan spt itu
Ayat-ayat cinta, nonton filemnya kek nonton film era 80-an, ada roy marten, rhoma irama. Banyakan Cintanya daripada Ayatnya.
me belum baca novelnya, ada ebooknya ?
) izin sedot dong.
wew om donald
..
antara cinta dan pengorbanan ?
*film nya mayan bagus juga…
ambil hikmah nya aja
lu dah nonton belon???
dah tonton dulu ajah pelemnya…
jangan antipati dulu sebelum ngeliat.
menurut gw malah dipelem ini si fahri sangat sangat tak sesempurna spt dinovel. tapi malah gw suka.
K Cyberheb salam kenal,
setuju sama Mba imoetz, coba ditonton aja dulu filmnya. yah memang c, di Indonesia sendiri produser masih sangat besar. makanya mungkin alur yang berubah juga atas campur tangan produser, mungkin lho ya. tapi, saya juga banyak mencermati kekurangan film ini sendiri setelah mencoba menonton.
yupz,,mank da bnrnya..
tp SuSah j9 x n9erubah NoveL k Skenario..
kLo cuma nyaLin 9ampan9, tp kN terbataS ma DuraSi.
9w j9 muaLaf, N dah tamat 2x baca NoveLny..
jd k inget kiSah 9w (bkn percintaaNny) waktu 9w dpt Hidayah..
eman9 kuran9 nyampe peSen bwt penonton tt9 Sur9a y9 9k biSa nerima or9 ky maria,, tp Secara viSuaLiSaSi..
9k mn9kin SeEnaKny bikin Sur9a apaLa9i ada Siti mariam..
0r92 Non muSLim bkL mrh N terSin99un9 kLo tau umatny bkn termaSuk 9oLon9an or92 y9 bS mSk Sur9a.
itu kpercayaan or9 mS92 mank bnr, tp Qt ttp men9har9ai ky y9 udah dSampein N0veL ayat2 Cinta wktu kjian di metro.itu kN kaSuSny Sama. 9k bLh n9ebedain a9ama N kita hrS bs men9har9ai itu.
SoaL poLi9ami mn9kin kuran9 etiS kLo dipubLikaSikan, tp Syah2 Saja krn dLm hukum iSLam pun ada,.
So..j9n terLaLu menyaLahkan fiLm ini,,!!
krn fiLm ini ada & dpt tayan9 atS perSetujuan San9 penuLiS NoveL..
TerimakaSih
(iSLam tidak pernah menjeLek2an, terima aja d9n ikhLaS!! bLm tentu kita biSa membuat karya Seperti ini, jd tL9 dhar9ain krn byk pen9orbana2 y9 hrS kita ketahui btp SuLitny mreka crew+pemain dan SemuaNy y9 berjuan9 untuk mencapai haSiL y9 makSimaL demi maSyarakat y9 menun99u fiLm ini.waLaupun mn9kin haSiLny 9k makSimaL,,)9w 9k makSud men99urui..
Coba tonton fiLmNy N ambiL SiSi poSitifNya!!!
9w yakin Lo seoran9 muSLim y9 baik,,y9 9k pernah menjeLek2an krya or9.”DiDunia ini 9da y9 Sempurna”bgtupun jdinya fiLm itu, mun9kin bLm Sempurna..
9w aja mSh bLjr utk jd Lbih baik..
iSLam itu Sabar, ikhLaS N da ktenan9an hati.
j9n mw muntah L9 y?!!!hehe(bcanda)
Gw setuju sama lu heb …
Ketika sesuatu diangkat ke dalam film … kebanyakan fakta yg ada didalam novel tidak diangkat ,yang ada malah diputar balikkan,ditambah dan dikurangi.
Hmm .. gw jadi inget John Markoff vs Kevin Mitnick , Takedown vs Freedom Downtime ?? …,
ck ck ck..
gak nyangka ya. ternyata,,.
Gak pa pa bos, masih lebih banyak positifnya dari pada negatifnya. Emang saudara kita harus disuguhin terus film jorok n mengumbar aurat tiap hari?. Syukur2 kita sekarang ada yang mau buat film islami (walaupun belum sempurna) karna “neg” juga setiap hari produksi film hanya cinta-cinta-cinta dan cinta sahwat semata…. mari kita dukung film yang mendidik seperti ini. Buat mas Hanung, “Jangan takut mas tuk ngangkat cerita bernuansa islam ya?!”, jangan kayak teman2 mas yang lain yang hanya berani buat film jorok dan horor rendahan itu. Keep the spirit!”
wew, tulisannya panjang bener !!
ampun dah, pasti dulu pas SD jago ngarang.
di pilemnya, maria mati kowk.
yang bikin saia kecewa tuwh pas maria mau mati, ga diceritain gimana maria melatunkan surat maria dan surat sesudahnya… perjuangan maria agar masuk surga…
aah pdhal justru bagian terakhir itu yang paling berkesan bwt saia, eh, di pilemnya ga ada…
kecewa dengan endingnya…
~ salam kenal, cyberh3b
[...] makan sodara sendiri) dan sesekali parkir sejenak untuk melepas penat ditepi pantai sambil membaca ayat ayat cinta sambil berdoa agar perjalanan hidup ini [...]
Indonesiana : Ray Blog said this on March 28, 2008 at 2:08 am |
alow..add balik ya di fs aq asihcute51@yahoo.co.id..
blog qm keyen…
(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)
Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain
FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).
JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.
Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.
Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?
Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).
YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).
Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.
SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).
Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.
Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).
Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.
SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).
Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.
Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).
Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.
SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).
BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)
izin repost bos…
http://undurundur.blogspot.com/2009/06/ayat-ayat-cinta-movie-penyesatan.html